KETERAMPILAN BERBAHASA

Featured

A. Resensi

Resensi ialah sebuah bentuk tulisan yang berupa uraian atau ulasan mengenai nilai (mutu) sebuah buku yang berisi pertimbangan baik buruknya sebuah buku. Tujuan resensi ialah untuk memberi rangsangan kepada pembaca agar membaca dan memiliki buku tertentu. Resensi dapat membantu penerbit atau pengarang memperkenalkan buku yang baru diterbitkan.

Susunan resensi:

  1. Identitas buku, meliputi: judul buku, nama pengarang, nama penerbit, tempat dan tahun terbit, dan tebal buku.
  2. Latar belakang buku,

Baca lebih lanjut

Biola Tak Berdawai

Tanpa dawai, bagaimanakah biola bisa bersuara? Biola bagaikan tubuh, dan suara itulah jiwanya – tetapi di sebelah manakah dawai dalam tubuh manusia yang membuatnya bersuara? Jiwa hanya bisa disuarakan lewat tubuh manusia, tetapi ketika tubuh manusia itu tidak mampu menjadi perantara yang mampu menjelmakan jiwa, tubuh itu bagaikan biola tak berdawai.

Betapa lamanya waktu yang kita butuhkan untuk memahami jiwa : pernah dipuja sembari merendahkan tubuh hingga melahirkan para pertapa. Jiwa dipinggirkan sembari memuja tubuh hingga melahirkan para peraga. Ada kalanya tubuh dan jiwa tak terpisahkan yang berarti tubuh menjadi sahih sebagai cerminan jiwa, namun terlalu sering juga tubuh gagal menjadi cermin memadai bagi penampilan jiwanya.

Terlalu sering kita melihat kebalikannya: tubuh terindah untuk jiwa yang menyedihkan, jiwa terindah dalam tubuh yang memilukan – betapa berpengaruh penampilan sang tubuh dalam penilaian kita tentang jiwanya, dan betapa sering kita tersesat karenanya..

Jika saja engkau mendengar suara biola yang berbisik dan merintih di malam hari, apakah engkau mengira suara itu datang hanya karena gesekan tongkat bersenar kepada dawainya? Jika saja engkau mendengar suara biola yang meratap dan melengking di malam sunyi, apakah engkau mengira suara itu datang hanya karena ada tangan yang menggesekkannya? Dan jika saja engkau mendengar suara biola di tengah keheningan, tidakkah engkau mengira tangan yang menggesekkan biola itu menjelmakan nada-nada dari dalam jiwa?

Tetapi dari manakah datangnya nada-nada yang membentuk nyanyian dari dalam jiwa itu? Apakah nyanyian itu datang dari balik kegelapan dari sebuah semesta entah dimana? Mungkinkah nyanyian itu berasal dari kekelaman sang waktu yang mengiringi pengembaraan jiwa yang tersayat? Dan jika pada suatu waktu engkau tidak menemui nyanyian dari nada-nada itu, apakah engkau mengira nada-nada itu lenyap, dan tiada satu pun biola memainkannya?

Karena nada-nada itu tetaplah ada meski kita tidak mendengarnya, selama kita masih berjiwa. Adalah jiwa yang menggerakkan tubuh, namun adalah hati yang membuat kita memiliki rasa di luar keinderaan kita. Karena tanpa hati kita bukanlah manusia, sedangkan hati adalah semesta nada-nada. Jiwa kita bagaikan lapisan-lapisan hati tanpa isi, yang mana apabila lapisan-lapisan itu dibuka satu per satu ternyata tak pernah ada habisnya. Setiap lapisan hati bagaikan suatu galaksi dalam semesta jiwa yang tiada bertepi. Dimana nada-nada dengan segenap sentuhannya mengembara dari sebuah jarak yang milyaran tahun cahaya jauhnya, hanya untuk menyapa kehadiranmu.

Setiap kali untaian nada menyentuh jiwamu, sebetulnya engkau terhubung dengan sebuah dunia dari hati yang berdenyar, dan tiada akan pernah berhenti berdenyar selama cinta membasuhnya. Hanya mereka yang mengenal cinta yang bisa mendengarnya, dan mengembangkan nada-nada itu di dalam jiwanya menjadi nyanyian yang menentramkan. Dalam semesta jiwa, nada-nada bagaikan kupu-kupu yang beterbangan mencari taman bunga cinta. Mereka tidak akan hinggap di hati yang membatu, karena bunga-bunga cinta berkembang dan mendenyarkan cahaya cinta yang menyemburat di ladang hati yang sarat kelembutan. Mereka mengumpulkan sari madu kemurnian untuk dipersembahkan kepada kita semua, manusia yang hampir kehilangan dawai bagi sang biola.

diadaptasi dari penggalan novel Biola Tak Berdawai karya Seno Gumira Ajidarma,
berdasarkan film karya Sekar Ayu Asmara

 

Sumber: http://www.elmoudy.com/biola-tak-berdawai